Bidang Pertanian Perlu Adopsi Tehnologi Digital
DIGITALISASI menjadi kebenaran sekarang ini. Banyak sektor yang telah adopsi hal itu. Itu penyebabnya adopsi tehnologi digital pada bidang pertanian Indonesia perlu dipercepat untuk tingkatkan keproduktifan dan performa bidang pertanian. Pemakaian tehnologi digital yang pas buat bisa menolong petani dalam tingkatkan daya saingnya terutamanya dalam rantai suplai global.

Riset CIPS memperlihatkan, keproduktifan padi, kedelai dan bawang merah condong agak miring dalam tahun-tahun ini dengan masing-masing di angka 5 ton per hektar gabah kering giling, 1,5 ton per hektar biji kering dan 10 ton per hektar. Cuma keproduktifan jagung memperlihatkan trend yang bertambah dengan perolehan 5,5 ton pipilan kering per hektar pada 2019 lalu. Adopsi tehnologi digital di hilir bisa menolong kenaikan keproduktifan pertanian.
Implementasi Internet of Things (IoT) dalam pertanian, misalnya, sanggup menolong petani mengetahui keadaan tanah, cuaca, mengawasi hama dan lain-lain. Sementara di hulu, kedatangan tehnologi digital pertanian bisa buka akses yang semakin besar untuk pada petani ke pasar. Tehnologi bisa menyambungkan petani langsung dengan customer, hingga ini bisa menyingkat rantai suplai. Kedatangan beberapa marketplace produk pertanian menolong jalankan peranan itu.
Azizah menambah, beberapa petani dapat kurangi keterikatannya dengan tengkulak. Sejauh ini, petani semakin banyak jual hasil pertanian dengan jumlah besar ke tengkulak. Ini mengakibatkan petani tidak mempunyai daya tawar yang kuat untuk tentukan harga produsen. "Selain itu, petani mempunyai akses pada info harga komoditas di pasar yang tepat dan terbuka. Pengetahuan yang kuat pada dinamika harga komoditas pertanian bisa menolong petani untuk tentukan harga produsen lebih terarah," terang Azizah. Sayang, belum semua petani mempunyai akses pada tehnologi digital pertanian. Ini karena ada banyak rintangan fundamental yang merintangi mereka untuk memakai tehnologi digital, misalkan belum memadainya infrastruktur pertanian yang memberikan dukungan dan kurangnya pengetahuan dan literatur digital.
Disamping itu, tehnologi yang diartikan umumnya relatif susah dicapai oleh petani. Harga yang relatif tinggi dan belum pasti sesuai rasio usaha petani pada akhirnya membuat mereka malas adopsi tehnologi itu. Berdasar data BPS, angkatan yang berumur di bawah 40 tahun di bidang pertanian cuma sejumlah 8% dari keseluruhan jumlah petani di Indonesia, sebagian besar karyawan bidang pertanian Indonesia telah berumur di atas 45 tahun.
Adopsi tehnologi digital di pertanian dapat dilaksanakan dengan tingkatkan investasi di bidang pertanian. Investasi dalam negeri atau asing memungkinkan ada transfer tehnologi dan training sumber daya manusia. Peraturan yang terbuka pada investasi yang bertanggungjawab dan terus-menerus penting untuk pastikan modernisasi dan adopsi tehnologi digital yang berguna untuk petani. (Try/A-1)
Post a Comment for " Bidang Pertanian Perlu Adopsi Tehnologi Digital"