Rupa-Rupa Produk Pertanian Malang Raya Menembus Pasar Export
Pada peringatan hari tani nasional yang jatuh di hari ini (24/9), Jawa Pos Radar Malang membahas 14 komoditi favorit dari Malang raya. Sebagian besar beberapa produk pertanian itu telah memasuki pasar internasional. Berikut penjelasannya.
DARI tiga wilayah di Malang raya, Kabupaten Malang jadi wilayah yang terbanyak mempunyai produk pertanian favorit. Keseluruhan ada 10 komoditi pertanian yang menjadi unggulan di situ.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang Budiar Anwar menjelaskan jika 10 komoditi itu telah masuk ke pasar export. Catatan itu jadi perolehan tertentu untuk sektor pertanian di Kabupaten Malang.
Sebagai contoh, ia menyebutkan ada dua tipe pisang favorit yang dari Kabupaten Malang. Pertama yaitu pisang emas dan pisang cavendish. Sekarang ini, komoditi itu telah di-export sampai ke negara Inggris. "Pisang favorit itu keproduktifannya sampai 57,6 ton per hektar pada sebuah tahun," katanya.

Budidaya tipe pisang itu banyak dilaksanakan di wilayah Malang selatan. Seperti pada Kecamatan Ampelgading, Dampit, dan Tirtoyudo. Proses menanamnya memakai mode monokultur, atau budidaya di tempat pertanian yang cuma menanam satu tipe tanaman satu tempat. Di tempat selebar sekitaran 40 hektar. Tidak cuma buahnya, sekarang ini negeri lain mulai melirik daun pisang dari Kabupaten Malang. "Kami tidak tahu benar buat apa, tapi keinginan daun pisang lumayan tinggi," tambah Budiar.
Produk favorit selanjutnya yaitu kubis dan sawi putih. Komoditi itu banyak diperbudidayakan di Kecamatan Poncokusumo. Marketingnya telah di-export sampai ke Taiwan. Disebutkan Budiar, pembudidayaan produk itu awalnya dipelopori oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, saat bertandang ke Poncokusumo. "Tiap hari kami dapat mengirimi dua container sayur ke luar negeri. Baik kubis, sawi dan sayur yang lain," katanya.
Seterusnya ada komoditi alpukat pameling, yang banyak ditanamkan di Kecamatan Lawang. Alpukat dengan daging yang mempunyai ketebalan tinggi itu telah dipasarkan sampai ke Hongkong dan Uni Emirat Arab. "Satu pohon dapat hasilkan 150 kg," jelas bekas Kasubag Humas Pemkab Malang itu.
Tidak ketinggal ada juga Kopi Dampit, baik yang macamnya arabika atau robusta. Budiar menyebutkan jika keproduktifan kopi dari Kecamatan Dampit itu semakin meningkat. Dari awalannya cuma mencatat angka produksi 700 kilo hektar, sekarang jadi 4 ton per hektar. Perolehan itu didasari proses pembelajaran ke beberapa petani berkaitan pemupukan, dan proses yang lain. "Sekarang ini telah banyak ke luar negeri (kirimnya). Seperti ke Hongkong," papar ia.
Seterusnya ada Jeruk Kalamansi. Komoditi yang banyak ditanamkan di Kecamatan Dau dan Poncokusumo itu juga masuk pasar export. Umumnya pecintanya tiba dari negara Inggris. "Produksinya dapat capai 60 kg per pohon," kata Budiar. Ada juga lemon california organik. Tanaman yang per pohonnya dapat hasilkan 30 kg itu telah ditawarkan sampai Singapura. Selanjutnya ada Salak organik yang distribusinya telah memasuki keempat negara.
Pemerintah kota Batu Merevitalisasi Tempat Apel
Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso mengaku jika komoditi Apel Batu ada pengurangan hasil produksi. Ia lalu menyebutkan jika angka produksi pada 20 tahun kemarin dapat capai 2x lipat. "Petani kami itu dahulu kerap memakai obat pertanian insektisida, hingga elemen hara dalam tanahnya menyusut. Itu punya pengaruh dengan keadaan saat ini," katanya.
Beberapa lalu saat musim penghujan, beberapa petani Apel Batu kerap kali mengeluh penyakit mata ayam atau lalat buah. Hingga nilai jual apel turun naik, sesuai kualitas yang ada.
"Kami ada yang bernama PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) setiap kecamatan. Itu kami optimalkan dan pemberian pupuk organik beberapa puluh ton kami kerjakan," terangnya. Rerata tiap tahun, Dinas Pertanian Kota Batu membudgetkan.membujetkan Rp 400 juta untuk memberikan dukungan revitalisasi tempat apel. Harus dipahami, di Kota Batu sekarang ini ada 1.044 hektar tempat apel. "Kami telah lakukan pembenahan tempat apel di Dusun Bumiaji, Dusun Bulukerto, Dusun Sumbergondo, Dusun Punten, Dusun Tulungrejo dan yang lain. Tiap tahun ada sekitaran 6 hektar tempat yang kami bina," terangnya.
Kota Malang Masih Punyai 5.200 Petani
Walau tempat pertaniannya semakin sedikit dibanding dua wilayah tetangga, Kota Malang masih tetap memiliki komoditi favorit. Beras berkualitas premium seperti inpari 32 dan inpari 42 jadi misalnya. Dua tipe itu jadi unggulan Kota Malang sepanjang tahun-tahun ini. Kabid Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Prandoyo Santoso menjelaskan jika keproduktifan beras di Kota Malang termasuk bagus. Karena, dari tempat pertanian selebar 995 hektar, 881 hektar salah satunya sebagai tempat pertanian padi.
"Jika diperinci kembali hasil pertanian kami itu 7,4 ton per hektar, yang dapat disebut di atas standard nasional yang berada di angka 6 ton per hektar," katanya. Selainnya padi, ada tebu dan beberapa tanaman holtikultura yang lain yang menjadi produk unggulan. Beberapa petani holtikultura sekarang banyak manfaatkan program urban farming. Pada umumnya, Prandoyo menyaksikan jika produk pertanian di Kota Malang bisa berkompetisi dengan daerah lain. Khususnya dari segi harga pasar.
Beras inpari 32 dan inpari 42 sekarang mempunyai harga pasar sekitaran Rp 10 ribu sampai Rp 11 ribu. Pangsa pasarnya juga bermacam. Prandoyo mengatakan jika Surabaya jadi wilayah marketing tentu untuk beras itu. Walau secara keproduktifan bagus, diakuinya masih tetap ada beberapa masalah yang terjadi di pertanian Kota Malang. Satu diantaranya yaitu beberapa petani yang sebagian besar telah berumur lanjut.
Post a Comment for " Rupa-Rupa Produk Pertanian Malang Raya Menembus Pasar Export"