PENGOLAHAN LIMBAH KOTORAN SAPI MENJADI PUPUK ORGANIK
Hasil sambilan perawatan ternak sapi atau kerap dikatakan sebagai kotoran sapi tersusun dari feses, urine dan tersisa pakan yang diberi (khususnya untuk ternak yang dikandangkan). Hasil sambilan ini sebagai bahan khusus pembikinan kompos yang paling balk dan cukup mempunyai potensi untuk jadi pupuk organik dan mempunyai nilai hara yang lumayan baik.
Perawatan ternak sapi di Pulau Jawa dan Bali biasanya dilaksanakan secara intens dengan dikandangkan dan pengadaan pakan dilaksanakan dengan mekanisme "potong angkut". Jumlah pemilikannya juga benar-benar terbatas yaitu di antara 1 sampai 5 ekor. Dengan mekanisme begitu karena itu hasil sambilan ada disekitaran kandang dan benar-benar gampang dalam penghimpunannya.
Jika ternak sapi yang dipiara berbobot hidup rataan 250 kg karena itu tiap petani sedikitnya harus sediakan pakan hijauan (tidak dikasih ekstrak) 7,5 kg bahan kering (3% x 250 kg). Jika diibaratkan jika kandungan bahan kering pakan hijauan lega sama dengan 20% karena itu jumlah itu sama dengan 37,5 kg (100 : 20 x 7,5 kg). Angka itu harus dipertingkat sekitar 30% dari pemberian supaya ternak mendapatkan peluang pilih pakan hijauan yang disukai.

Dengan begitu jumlah itu jadi lebih kurang 50 kg. Seterusnya jika tingkat kecernaan bahan pakan itu ialah 50% karena itu jumlah yang dikeluarkan kembali berbentuk feses fresh ialah 25 kg. Dengan pengucapan lain tiap tahunnya feses yang dibuat tiap ekor ternak sapi bisa capai 9 ton dan jumlah ini lebih rendah dari yang disampaikan Sichombing (1990).
Seterusnya disebutkan jika ternak sapi bisa hasilkan feses beberapa 10 -15 ton/ekor/tahun. Rendahnya jumlah yang didapat dalam penghitungan di atas peluang dikarenakan oleh nilai tersisa pakan belum diperhitungan. Dengan anggapan penghimpunan feses dilaksanakan tiap 4 bulan sekali karena itu tiap petani dalam jumlah kepemilikan ternak sapi sekitar seekor bisa sediakan bahan pupuk organik sekitar 3 ton. Satu jumlah yang lumayan besar maknanya jika disambungkan dengan luas kepemilikan tempat yang secara umum sekitar 0,2 - 0,5 Ha/petani (satu Ha memerlukan pupuk kandang beberapa 17,5 ton.
Agar memberi faedah yang optimal karena itu hasil sambilan perawatan ternak sapi itu harus diolah saat sebelum dipakai sebagai pupuk. Biasanya proses pemrosesan diartikan terdiri dari 2 barisan, yaitu pemrosesan secara terbuka dan tertutup.
1. Pemrosesan secara terbuka dilaksanakan cukup dengan menyanggakan kotoran ternak sapi di suatu tempat tertentu sepanjang saat yang tidak pasti. Tetapi secara umum dipakai mendekati musim tanam atau di saat pemrosesan tanah dilaksanakan. Langkah ini tidak memerlukan ongkos yang kebanyakan, karena ongkos yang dikeluarkan cuma untuk tenaga kerja dan tidak diakui karena tenaga yang dipakai ialah tenaga keluarga.
2. Pemrosesan yang ke-2 dengan proses tertutup. Langkah ini dilaksanakan mem lelepkan kotoran ternak ke sebuah lubang yang sudah disiapkan awalnya. Pembikinan lubang/silo dianjurkan untuk dilaksanakan di bawah lindungan dan area yang tidak gampang tergenangi air jika terjadi musim penghujan. Di bawah lindungan bisa disimpulkan sebagai tempat di bawah pohon yang teduh maupun di bawah lindungan atap yang dipersiapkan untuk maksud itu.
Pembikinan silo itu bisa dilaksanakan dengan kedalaman yang sesuai volume yang diharapkan dan seharusnya dinding silo itu tahan pada serapan air dari samping. Maksudnya ialah selainnya menahan masuknya air ke kotoran berperan supaya elemen hara seperti nitrogen, yang ada pada kotoran tidak lenyap tercuci air yang bisa masuk/merembes.
Proses memproses pupuknya diantaranya:
1. Agar bisa memuat kotoran sapi sekitar 3 ton karena itu ukuran yang diperlukan ialah dua mtr. kali satu mtr. dengan kedalaman dua mtr.. Jika memungkinkannya pembikinan silo dapat dilaksanakan dengan menggunakan gorong-gorong berpenampang 1 mtr. dan diatur sekitar tidak lebih dari 3 biji. Sesuai ukuran gorong- gorong yang berada di pasaran karena itu, 2 buah gorong-gorong ditaruh di permukaan tanah (sedalam 90 cm) dan sebuahnya kembali bisa ditumpuk di permukaan tanah (dengan tinggi 100 cm).
2. Sama ukuran silo bisa memuat tiga ton kotoran sapi. Kotoran sapi yang ada seterusnya diaduk-aduk supaya tercampur secara rata di antara feses, urine dan tersisa pakan. Jika sudah homogen karena itu kotoran sapi bisa dimasukkan ke silo dengan baik supaya cukup padat sampai nyaris penuh.
3. Seterusnya bisa ditutup dengan memakai tanah galian lubang yang ada dengan tinggi kurang lebih 30cm. Tumpukan itu seterusnya didiamkan untuk satu unit waktu tertentu, misalkan tiga bulan (Mathius, 1994), tetapi secara umum disamakan sama waktu pemakaiannya, yaitu disamakan dengan musim tanam.
4. Sesudah melalui saat yang diharapkan diharap kotoran yang sudah melalui proses pembongkaran/dekomposisi, menjadi kompos yang diharap dan siap dibedah.
Kompos itu seterusnya bisa dipakai langsung ke tempat pertanian maupun bisa dianginkan/dikeringkan di bawah cahaya matahari.
5. Hasil pengeringan itu seterusnya dihancurkan supaya tidak menggumpal/padat dan bisa disaring dengan ayakan yang sesuai beberapa ukuran yang diharapkan. Untuk maksud sebagai pupuk tanaman hias karena itu hasil ayakannya harus lumayan kecil (2-3 mm), demikian pula jika diperuntukkan untuk tanaman rumput di atas lapangan golf.
Dan untuk maksud pemupukan tanaman pangan satu tahun, karena itu hasil proses dekomposisasi itu bisa dipakai langsung ke lega dan dilelepkan di saat penyiapan tempat sedang ditangani/diproses
Post a Comment for " PENGOLAHAN LIMBAH KOTORAN SAPI MENJADI PUPUK ORGANIK"