Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

​Melirik Kesempatan Usaha Di Bidang Pertanian Melalui Pengembangan

Tetapi, kenyataannya ada banyak tugas rumah di bidang industri pertanian yang perlu kita tuntaskan. Apa saja beberapa hal itu? Dan bagaimana kita dapat menanganinya dengan buka kesempatan usaha melalui pengembangan? Baca ulasan selengkapnya di bawah ini.

Kentang dan Bawang Putih

Bila berbicara kualitas, ada dua komoditas bidang pertanian yang nasibnya berlainan di Indonesia. Agus Wibowo, seorang sarjana Agroteknologi yang tinggal di dusun petani kentang di lereng Merbabu, mengaku jika keproduktifan kentang berkualitas di Indonesia masih kurang kuat. Walau sebenarnya, harga di pasar condong konstan karena waktu simpannya yang lumayan panjang.

Kentang dengan budidaya bagus, dapat diletakkan sampai dua bulan, dengan penyimpanan yang sama sesuai SOP, tidak terkena cahaya matahari dan tempatnya tidak lembab. Cabe, kubis, brokoli, rawan hancur, Tidak demikian dengan kentang yang keras. Saat panen, kentang pun tidak bisa terkena air hujan, ini dapat memengaruhi kwalitasnya dan jadi lebih gampang busuk. Karena itu, treatment panen dan saat panen benar-benar tentukan kualitas untuk dipasarkan.

Permasalahannya, menurut Agus, tidak seluruhnya petani kentang memahami mengenai hal itu. Untuk pembibitan juga, umumnya masih menggunakan bibit yang tidak unggul. Tidak banyak pula yang pahami mengenai treatment paling cocok saat panen dan pasca-panen untuk kentang-kentang itu.

Ketinggalan dalam soal bibit terjadi pada komoditas bawang putih. Intan Anastasia, pemilik usaha Hitara Black Garlic akui jika untuk memproduksi, dia malah memakai produk bawang putih import. Karena, bawang putih lokal Indonesia ukuran lebih kecil. "Bila dibikin black garlic, penyusutannya 30 sampai 40 %, jadi kecil sekali,' tutur Intan. Tidak itu saja, harga bawang putih lokal juga condong tambah mahal.

Menurut Agus, suplai bawang putih di-import karena Indonesia belum mempunyai mekanisme pembibitan bawang putih yang betul-betul bagus. Akhirnya, produktifitas Indonesia rendah dan tidak dapat memenuhi keperluan rasio nasional.

Bagaimana UKM Dapat Menangani Permasalahan Petani

Tentu saja, kekuatan usaha di sektor pertanian akan makin terbuka luas bila kita ingin berkembang dan memiliki komitmen untuk singkirkan beberapa masalah yang ada. Bibit yang kurang unggul, keterikatan pada produk pangan import, dan keterbatasan pengajaran petani ialah permasalahan yang harus ditemui. Perlahan-lahan, kita kemungkinan dapat membenahi hal itu dengan mengaplikasikan banyak hal, misalnya :

1. Mengaplikasikan mekanisme kerja sama

Bila berbicara budidaya kentang di Indonesia, ongkos yang dibutuhkan memang lumayan tinggi, tetapi keuntungannya sepadan. Walau sulit mencari tempat, tetapi Agus menanganinya dengan kerja sama. Diproses oleh petani, tetapi memakai standard yang dipunya usaha Agus. Standarnya diseragamkan. Tidak cuma di sistem pertaniannya, Agus berperanan sebagai penyambung di antara investor dengan sang petani. Karena, banyak tempat, tetapi sedikit petani yang punyai modal.

2. Pengembangan pembibitan komoditas jumlah besar

Bila dilihat secara luas, ketahanan pangan Indonesia bisa saja terancam karena mekanisme pembibitan yang kurang unggul di negara lain. Dikutip dari Katadata.com, rasio keterikatan import bahan pangan condong bertambah. Berdasar data dari Global Food Security Indeks, Indonesia masih ada pada barisan tiga paling rendah teritori Asia Tenggara dalam soal ketahanan pangan. Ini terhitung tugas rumah kita yang perlu diperbarui.

Pada tahun 2018, sempat ada swasembada bawang putih, digiatkan di mana saja, tetapi peraturan ini tidak diimbangi kekuatan kita di sektor pertanian saat lakukan pembibitan. Produktifitasnya juga tidak baik pada akhirnya. Karena, bawang import itu telah hibdrida, jadi saat ditanamkan tidak baik. Tempo hari, petani sempat menanam dan yang tumbuh cuma akarnya. Tersebut bila program dipaksa, pada akhirnya rugi dan panennya kosong . Maka, bila ingin maju di sektor pertanian putih, kita harus punyai program pembibitan yang baik secara nasional.

3. Management Resiko Bila Tidak berhasil Panen

Resiko alam, memang susah untuk dihindarkan dalam pertanian. Lama, petani memang telah mempunyai kalender musim, di mana terdapat bulan-bulan tertentu yang perlu kita jauhi untuk menanam kentang. Tetapi, karena ada tuntutan suplai dari konsumen, Agus tetap harus menanam di bulan-bulan itu. Banyak tehnologi yang dapat diaplikasikan di atas lapangan untuk mitigasi musibah saat ini. Tidak berhasil panen tentu ada, tetapi saat kita dapat mitigasi.

Tugas Rumah Industri Pertanian Indonesia

Selainnya kentang, petani di Indonesia tidak konstan, karena tidak ada support yang betul-betul berpengaruh dari pemerintahan. Agus juga tidak berani menjawab karena terkait dengan pasar. Ada yang konstan saat kita dapat memproses dan menambahkan nilai dari produk itu. Kita flat ke petani pada harga 9 ribu rupiah. PR kita di dunia pertanian Indonesia ialah tehnologi saat panen, terhitung penetapan harga supaya harga bisa saja konstan dan kuat.

Di Indonesia, petani condong setelah panen terima uang langsung. Bila ingin lakukan satu cara yang semakin tinggi, ada perkembangan. Gabah diproteksi oleh pemerintahan konsistensi harga di angka 5 ribu rupiah. Tetapi, saat panen raya dapat turun sampai 4 ribu. Tetapi, harga beras premium tak pernah di bawah 11 ribu . Maka, bila petani ingin tunggu satu minggu saja, sampai beras premium dipanen, itu telah naik.

Contoh yang lain ialah komoditas cokelat. Bila cokelat yang telah dipanen, dikeringkan, lalu difermentasi. Ketika telah capai tahapan peragian 1 sampai dua minggu, harga telah berbeda 20% tambah mahal. Tetapi, petani umumnya tidak ingin menanti. Hingga keuntungan semakin besar berada di penyuplai yang beli ke mereka. Karena itu, memproses hasil bumi harus dikuatkan pada proses pasca-panen.

Bila mereka pahami rantai suplai, pasti mereka jadi punyai kemampuan. Banyak yang perlu dikuatkan, selainnya pahami pertanian. Kurang cukup kuasai tempat usaha, harus ada mentalitas untuk belajar, meningkatkan kualitas dan proses sendiri dan maju dan naik kelas.

Ya, industri pertanian Indonesia memang harus banyak berbenah. Tetapi, tidak berarti kesempatan usaha di bidang ini tipis. Malah, budidaya bawang putih, kentang, kedelai, dan beberapa tanaman yang lain ada banyak di-import sekarang ini, bisa saja kesempatan usaha nantinya. Bukan mustahil, kita dapat ke arah swasembada pangan seutuhnya. Asal, anak-anak muda berbakat ingin turut turun menolong petani dari semua segi untuk capai kesejahteraan. Karena, telah waktunya petani naik kelas!

Post a Comment for " ​Melirik Kesempatan Usaha Di Bidang Pertanian Melalui Pengembangan"