Investor Jepang Pelajari Usaha Pertanian di Indonesia
Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan jika beberapa investor Jepang tengah mempelajari usaha di bidang pertanian Indonesia. Investor itu salah satunya Chemical Business Global Kao Corporation yang mengatakan ketertarikannya untuk meningkatkan produk biomassa dan produk pertanian Indonesia dengan memakai tehnologi kekinian.
Atase Pertanian Indonesia Nuryanti akui sudah terima lawatan investor Jepang, Chemical Business Global Kao Corporation yang diwakilkan oleh Hiroshi Hashimoto dan Takehiro Tsutsumi. Dengan investasi dari investor itu, diharap tidak ada sampah industri tapioka yang masih ada karena dipakai untuk bahan baku bioetanol.

"Kita benar-benar suka dengar paparan dan gagasan mereka dalam meningkatkan tehnologi industri yang ramah lingkungan. Selama ini, aplikasinya masih jadi tugas rumah yang besar dan harus selekasnya dituntaskan, ditambah industri tapioka yang banyak terkandung sampah dan memunculkan pencemaran udara dan air. Tehnologi mereka telah kekinian, hingga biaya produksi bioetanol semakin lebih murah dari tehnologi konservatif yang ada," kata Nuryanti seperti dikutip situs Kementan, Selasa (26/3).
Chemical Business Global Kao Corporation sampaikan hasil penelitian yang selama ini bisa dibuktikan sanggup hasilkan enzim dan bisa mengganti onggok ubi kayu jadi biofuel. "Tehnologi ini yang kami pasarkan untuk diaplikasikan di Indonesia. Ditambah, pendayagunaan onggok ubikayu untuk industri di Indonesia belum optimal. Walau sebenarnya, tehnologi itu mempunyai nilai lebih yang tinggi," kata Hiroshi Hashimoto.
Chemical Business Global Kao Corporation tertarik menggamit partner sebagai penyuplai bahan baku biofuel. Nanti, skema implementasi dilaksanakan dengan menyambungkan industri hulu yang sudah siap jadi partner pengolah biofuel yang dibuat.
"Terang-terangan, selama ini kami kesusahan memberikan keyakinan calon partner kami untuk tergabung memproses onggok ini jadi biofuel. Sejauh ini, mereka jual onggok ke pabrik pakan ternak. kami mengetahui investasi ini termasuk baru dan mahal. Tetapi, Indonesia bisa menjadi lokasi pertama investasi biochemical industry kami. Kami ingin Anda memberikan keyakinan mereka untuk terima kami sebagai partnernya," kata Hiroshi Hashimoto.
Takehiro Tsutsumi menambah, biofuel ialah bahan baku biopolietilen (green plastic) yang mempunyai performa ramah lingkungan.
Selama ini, sampah plastik jadi permasalahan karena memunculkan pencemaran di tanah atau perairan. "Tetapi, bila mereka sepakat, kami sudah siap memprosesnya. Investasi ini keseluruhannya tidak cuma memiliki motif ekonomi, tetapi didorong oleh kepedulian pada kelestarian lingkungan hidup," katanya.
Kementan melaunching, Ogawa Co Ltd diberitakan akan turut serta dalam gagasan inves-tasi di Indonesia. Ogawa Co Ltd memiliki anak perusahaan di Indonesia namanya PT Ogawa Indonesia yang berdiri pada 1995 dan berada di Karawang.
Produk yang dibuat di Indonesia sebagai bahan baku aroma yang mendapat Halal Assurance Sistem (HAS) untuk produk flavors, flavor powders, emulsion flavors, extracts, dan fragrances. PT Ogawa Indonesia memproses produk kosher (halal) lainnya untuk ditawarkan ke beberapa negara di teritori Asean terutamanya dan Asia secara umum.
"Pada dasarnya, Ogawa Co Ltd berniat merajut kerja-sama dengan petani di Indonesia untuk membudidayakan 40 tanaman herbal yang hendak diambil kulit atau bunganya buat diekstrak jadi minyak atsiri sebagai bahan baku aroma di PT Ogawa Indonesia," kata Takehiro Tsutsumi.
Tipe tanaman yang akam ditanamkan diantaranya thai lime (jeruk nipis), teratai, cengkih, jinten, jintan, pandan, lada hitam, vetiver, kakao, nilam, serai, davana, kapulaga, ketumbar, marigold, kenikir, raspberry (frambos), lavender, mawar, geranium, mint, eceng gondok, sage, rosemary, jeruk nipis besar, hyssop, gaharu, melaleuca alternifolia, kamomil, ylang ylang, jahe, neroli (jeruk), juniper berry, serai harum, kemangi, galbanum, dan fenugreek.
"Kami minta ditolong disambungkan dengan petani di Indonesia. Bibit dan varietas yang dipakai seutuhnya kami berikan ke petani anda. Tetapi, bila tidak mungkin menanam, kami bisa juga beli produk yang telah ada. Misalkan jeruk nipis dan kami perlu kulitnya buat kami konsentrat," ucapnya.
Berkaitan hal tersebut, Nuryanti menerangkan, tipe tanaman yang dibutuhkan itu mayoritas ialah tanaman biofarmaka atau herbal yang terhitung hortikultura dan beberapa kembali tipe tanaman penyegar terhitung perkebunan.
"Untuk tipe biofarmaka kami ada Contact Usaha Hortikultura Indonesia (KBHI). Mereka sudah siap bekerja bersama sama mereka. Kami perlu perincian kemampuan produksi, pilihan plasma produsen atau penyuplai, harga pembelian, dan kontrak kerja sama di antara faksi Ogawa dan calon partner," Nuryanti.
Post a Comment for " Investor Jepang Pelajari Usaha Pertanian di Indonesia"